People Change

Orang-orang Berubah
Singkat dan padat untuk dijadikan jawaban pamungkas bila tak mampu memahami perubahan perilaku kolega kita. Kalau arah perubahan dari negatif ke positif, kalimat itu diucapkan dengan intonasi sopran atau tenor dengan senyum simpul tanda asa baru. Sebaliknya, bila perubahan ke arah negatif, maka intonasinya alto atau bas dengan nada getir tanda tak mafhum.
Sayangnya, kebanyakan orang bergerak positif-negatif tak beraturan. Kalau angin lagi ke arah positif, ia pun ikut terseret positif. Sebaliknya begitu pula. Sehingga, muncul sindiran seperti bunglon dan oportunis untuk konotasi negatif; sedangkan fleksibel dan adaptif untuk konotasi positif.
Pertanyaannya, kenapa ada yang cepat berubah dan kenapa ada pula yang mampu bertahan? Ada yang sangat cepat ”menyesuaikan diri” dengan lingkungan; ada yang mencoba terus bertahan terhadap pencemaran lingkungan; dan ada pula yang justru mampu mengubah lingkungan.
Reposisi itu bukan soal kesempatan dan kemampuan, melainkan: kemauan.
Ada sistem nilai di relung hati yang paling dalam, yang bekerja saat situasi dan kondisi sangat kondusif untuk netral; melakukan dan tidak melakukan.
Dalam bahasa filosofi, itu adalah sesuatu yang rooted dan grounded dalam hati manusia.
Dalam bahasa manajemen, itu adalah karakter.
Sementara itu, saya lebih senang menyebutnya sebagai watak. Kalau perubahan itu disebabkan faktor watak – yang acap kali baru muncul setelah ada kesempatan, kemampuan dan kemauan – maka, ia menjadi perubahan yang permanen.
Namun, terkadang perubahan perilaku bukan karena perubahan watak. Orang terpaksa harus berubah untuk suatu saat mampu mengubah. Atau, ia berubah karena ketidakmampuan dalam mengubah kondisi lingkungan. Ia diubah oleh keadaan. Tak mampu bertahan apalagi mengubahnya. Ia masuk dalam kategori terkena penyakit watuk (batuk dalam bahasa Jawa). Sebagai orang sakit, ia bisa lemah, lesu, lelah, dan kelihatan kalah. Toh, perubahan itu hanyalah sementara. Ketika ia sudah sehat, ia akan kembali seperti yang dulu.
Memang sulit untuk tidak tertular watuk kalau lingkungan sedang terkena endemi influenza. Apalagi, kalau ia bermaksud menolong yang sakit flu. Ia harus berani terkena flu, sekalipun ia hanya bermaksud menolong si penderita flu. Kalau ia ceroboh malah akan mudah tertular; kalau tidak, bukan tidak mungkin ia tetap imun.
Tidak ada yang sempurna melawan pengaruh lingkungan. Yang menjadi masalah, bila lingkungan yang buruk mengubah watak kita. Kalau sekadar tertular watuk masih ada obatnya, tapi kalau sudah ke arah watak, setan pun tak mampu mengontrolnya, apalagi seorang manusia yang berpangkat pemimpin. Yang ini sudah urusan Tuhan Sang Pencipta.
sumber : dunia maya

Good Nice, success
1